Gastrodiplomasi memperkenalkan kebudayaan lokal suatu negara dengan kuliner sebagai media yang mudah diterima oleh masyarakat luas. Sebagaimana Chapple-Sokol berpendapat bahwa kuliner menggambarkan budaya, sejarah, dan tradisi yang dimiliki kelompok masyarakat. Kuliner juga merupakan cermin dari kebudayaan sebuah bangsa dan negara. Gastrodiplomasi memperkenalkan warisan kuliner sebagai aset budaya berwujud kepada publik asing yang berlatarbelakang berbeda-beda. Karena dapat menumbuhkan familiaritas publik asing atau manca negara terhadap kuliner atau kebudayaan negara yang bersangkutan, gastrodiplomasi dianggap dapa meningkatkan citra nasional sebuah negara. Oleh karena membidik publik sebagai sasaran, maka implementasi gastrodiplomasi tidak hanya melibatkan aktor-aktor yang bersifat high elites seperti kepala negara, duta besar, dan petinggipetinggi serupa. Gastrodiplomasi justru membutuhkan keterlibatan publik pada penerapannya sebagaimana diplomasi publik umumnya dijalankan; oleh aktor negara dengan publik (state to public) atau individu dengan individu (people to people).Gastrodiplomasi membidik publik asing agar dapat mengenal budaya, sejarah, dan tradisi yang dimiliki bangsa lain. Sebagai aset budaya, kuliner berpotensi menjadi sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk menjadi attractive power sebuah negara. Nye, salah satu pemikir terkemuka tentang power dari Universitas Harvard, menggambarkan bahwa attractive power memiliki keserupaan makna dengan soft power, yakni kemampuan untuk membentuk preferensi publik. Untuk membentuk preferensi tersebut, sebuah negara memerlukan attractive power yang salah satunya bersumber dari aset budaya yang dianggap menarik dan mudah diterima bagi publik.Dalam kajian hubungan internasional, gastrodiplomasi merupakan irisan dari diplomasi publik dan diplomasi budaya. Dalam kaitan dengan diplomasi publik, interaksi yang terjadi antar publik bertujuan untuk meningkatkan ketertarikan dan nilai hal-hal yang direspresentasikan (Mellisen 2005). Sementara itu, terkait diplomasi budaya, pertukaran ide, informasi, budaya, dan aspek-aspek lain dari budaya antar negara dan rakyat mereka dalam rangka menumbuhkan rasa saling memahami. Di antara dua wilayah diplomasi itu (publik dan budaya), gastrodiplomasi menempatkan peran kuliner sebagai aset budaya serta memerlukan keterlibatan publik baik sebagai aktor dan sasaran vital. Dalam titik ini, seperti Gambar 1 di bawah ini, gastrodiplomasi merupakan intrumen diplomasi yang memanfaatkan dan mengaitkan peran keduanya (diplomasi publik dan diplomasi budaya). Budaya akan menjadi aspek yang selalu melekat dalam aplikasi gastrodiplomasi sebab gastrodiplomasi membuat keterkaitan sederhana antara makanan dan pemahaman budaya. Sebagaimana gastrodiplomasi itu sendiri bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan familiaritas publik asing terhadap warisan kuliner suatu negara, menurut Rockower (2014) sebagai bagian dari budaya berpotensi menjadi media untuk menjalin hubungan dengan individu lain juga hubungan internasional (cultural engagement). Selain itu, kuliner menjadi ‘ruh’ dari gastrodiplomasi, karena kuliner dapat memberikan sebuah pengalaman universal bagi siapa saja yang dapat menikmatinya Rockower (2012). Hal ini sejalan dengan pendapat kritikus kuliner James Beard yang menggarisbawahi aspek universalitas dari kuliner. Berdasar pada pendapat tersebut, Paul Rockower menunjukkan bahwa gastrodiplomasi memanfaatkan universalitas kuliner tersebut untuk memperdalam pemahaman budaya publik (asing) dengan melibatkan mereka dalam aktivitas budaya dengan kuliner sebagai media. Pada titik itu, gastrodiplomasi dapat dimainkan langsung atau tidak langsung. Memang, gastrodiplomasi barangkali tidak melulu membawa keuntungan diplomatik bagi sebuah negara. Namun gastrodiplomasi memiliki signifikansi dalam meningkatkan familiaritas makanan itu suatu negara di fora internasional. Familiaritas tersebut lantas akan berpengaruh, langsung atau tidak langsung, pada dikenalnya suatu negara atau masyarakat di mata masyarakat global. Singkatnya, kuliner dapat menjadi stereotip, etalase, atau identitas sebuah negara dengan begitu mudah. Sushi adalah Jepang, nasi goreng adalah Indonesia, tacos adalah Meksiko, kimchi adalah Korea, adalah salah satu contoh bagaimana gastrodiplomasi bekerja. liner Indonesia potensial menjadi ikon penting industri pariwisata maupun aset signifikan bagi citra nasional tanah air.
Belajar dari negara-negara yang terlebih dahulu memainkan diplomasi kuliner sebagai sayap diplomasi mereka, Indonesia sudah saatnya memberikan perhatian dan menjalankan kebijakan lebih serius menggarap potensi kulinernya. Langkah dan kebijakan yang selama ini diambil pemerintah RI agaknya masih belum menggambarkan jelasnya arah dan pelaksanaan gastrodiplomasi. Padahal, melihat potensi kuliner yang dimiliki Indonesia yang kaya dan eksotik, kesungguhan aplikasi gastrodiplomasi menjadi esensial. Menjadikan gastrodiplomasi adalah pilihan bagi Indonesia, karena kekayaan kuliner Indonesia adalah pilihan yang rasional. Karena sejatinya dalam konteks Indonesia gastrodiplomasi dapat “membumbui” citra Indonesia di mata dunia. Gastrodiplomasi karenanya dapat membantu industri pariwisata, dan lebih jauh citra nasional Indonesia, lebih “berasa”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar