Rabu, 25 September 2019

                                                 SEJARAH JARANAN TARUNA BUDAYA

      

           Jaranan di daerah Trenggalek ternyata tak hanya sebatas sebagai seni pertunjukan. Lebih dari itu, masyarakat di sana banyak yang percaya jika nadzar nanggap jaranan akan membuat usaha menjadi lancar dan meraih kesuksesan.
           Suatu saat, seorang warga yang tinggal di Boyolangu, Tulungagung mengaku heran dengan temannya yang asal Trenggalek. Teman itu mengajaknya mendatangi rumah seorang pawang jaranan yang ada di Dess Malasan,Trenggalek. Tujuannya bukan untuk order nanggap jaranan, melainkan berkeluh kesah soal permasalahan usaha toko berasnya yang mengalami sepi pembeli. Di akhir obrolan, pawang jaranan yang dianggap memiliki kelebihan supranatural itu menyanggupinya untuk membantu dengan caranya. Tapi, syaratnya nanti jika usahanya itu telah sukses, sang teman harus nanggap jaranan yang di bawah kepemimpinannya.
         Selang sekitar sebulan setelah peristiwa kedatangannya pada pawang jaranan itu, usaha sang teman kembali bergairah. Toko berasnya ramai pembeli dan pesanannya cukup banyak dengan pengambilan dalam jumlah besar. Dan, setelah dirasa uangnya sudah mencukupi, ia pun mendatangkan seni jaranan atau kuda lumping yang asal Desa Malasan,Trenggalek untuk pentas di rumahnya.
       Acara pentas jaranan berlangsung meriah. Banyak penduduk yang ikut menyaksikan kesenian yang termarjinalkan ini. Dan, teman yang punya hajat itu tersenyum penuh kegembiraan sebab telah memenuhi janji nadzarnya. “Fenomena itu banyak sekali terjadi di Trenggalek. Bahkan, sekarang orang-orang di daerah Ponorogo yang wilayahnya berdekatan dengan Trenggalek, banyak yang ikut-ikutan melakukannya,” ucap orang itu.
        Arief Syaifuddin Huda, pemerhati budaya, yang tinggal di Trenggalek mengatakan bahwa tidak aneh jika seseorang mendatangi pawang jaranan untuk meminta bantuan atau sekedar konsultasi mengenai permasalahannya sebab seorang pawang jaranan biasanya memang mempunyai kelebihan khusus dalam hal supranatural. Bahkan, tidak sedikit dari para pawang jaranan ini, yang pekerjaan sampingannya adalah sebagai dukun atau orang pintar yang sering didatangi orang untuk berbagai tujuan.
         Sedang nanggap jaranan, menurut Arief Syaifuddin Huda, bisa pula memiliki dua makna, yakni sebagai ajang promosi yang dilakukan sang pawang jaranan agar kesenian yang dipimpinnya lebih dikenal orang. Namun, bagi sebagian orang ada juga yang beranggapan bahwa jaranan adalah seni yang sakral, yang memang sering dijadikan media untuk bernadzar agar segala keinginan mudah terkabulkan.
        Seperti diketahui banyak orang, jaranan merupakan salah satu tarian tradisional khas Trenggalek. Selain sebagai hiburan, seni jaranan juga dikenal sebagai alat pemersatu masyarakat di Kediri. Meski berupa tarian, jaranan memiliki ciri tersendiri, baik dari tarian, pakaian yang dikenakan, serta irama yang mengiringinya. Kesenian jaranan asli Trenggalek, biasa diiringi dengan berbagai alat musik, seperti gamelan, gong, kendang, kenong. Sedangkan, dilihat dari tariannya, ada 2 macam tarian yang digunakan, yaitu tarian pegon atau jawa, dan tarian senterewe yakni gabungan antara tarian jawa dengan tarian kreasi baru.
         Jaranan, sebenarnya menggambarkan cerita masa lalu, ketika Raja Bantar Angin, seorang raja dari Ponorogo bermaksud melamar Dewi Songgolangit, putri cantik dari kerajaan Kediri, atau yang biasa disebut juga dengan Dewi Sekartaji atau Galuh Candra Kirana. Konon, karena wajahnya jelek, Raja Bantar Angin akhirnya menyuruh Patihnya, yang bernama Pujangga Anom, seorang patih yang dikenal sangat tampan. Agar Dewi Sekartaji tidak tertarik dengan Patih Pujangga Anom, Raja Bantar Angin memintanya memakai sebuah topeng buruk rupa. Lalu Patih Pujangga Anom, datang ke Kerajaan Kediri, menyampaikan maksud rajanya. Putri Sekartaji, yang mengetahui Patih Pujangga Anom mengenakan topeng, merasa tersinggung, lalu menyumpahi agar topeng tersebut, tidak bisa dilepas seumur hidup.
            Raja Bantarangin, akhirnya datang sendiri ke Kerajaan Kediri. Sebagai gantinya, Dewi Songgolangit meminta 3 persyaratan. Jika Raja Bantarangin bisa memenuhi, dirinya bersedia diperistri. Tiga syarat tersebut, binatang berkepala dua, 100 pasukan berkuda warna putih, dan alat musik yang bisa berbunyi jika dipukul bersamaan. Sayangnya, Raja Bantarangin, hanya bisa memenuhi 2 dari 3 persyaratan tersebut, 100 kuda warna putih yang digambarkan de­ngan kuda lumping, alat mu­sik yang bisa dipukul bersamaan yakni gamelan. Sehingga, terjadi pertempuran diantara keduanya. Kerajaan Kediri, datang dengan membawa pasukan berkuda, yang kini digambarkan sebagai jaranan, sementara Kerajaan Ponorogo membawa pasukan, yang kini digambarkan sebagai Reog Ponorogo.
             Di perjalanan, terjadi pertempuran. Raja Ponorogo yang marah, membabat macan putih yang ditunggangi patih Kerajaan Kediri, dengan cambuk samandiman, hingga akhirnya melayang ke kepala salah satu kesatria dari Ponorogo. Bersamaan dengan kejadian tersebut, seekor burung merak, kemudian juga menempel dikepala kesatria tersebut, sehingga ada kepala manusia yang ditempeli kepala macan putih dan merak, ini yang sekarang disimbolkan Reog Ponorogo. Bahkan, dalam tarian reog, semua penari juga membawa cambuk. Sementara dalam kesenian jaranan, menggam­barkan pasukan berkuda Dewi Sekartaji yang hendak melawan Raja Ponorogo. Barongan, Celeng dan atribut di dalamnya, sebagai simbol, selama dalam perjalanan menuju Ponorogo yang melewati hutan belantara, pasukan juga dihadang berbagai hal, seperti naga, dan hewan liar lainnya. 
             Taruna Budaya, demikian nama kelompok kesenian yang saat ini dipimpin Mbah Khalil. Kelompok ini sendiri berdiri sejak 2016. Sebelumnya kelompok Taruna Budaya  adalah kelompok kesenian jaranan yang paling terkenal di wilayah Trenggalek. Namun karena sang pendiri yang juga sekaligus pemimpin kelompok ini meninggal, akhirnya kelompok ini mulai vakum. Adalah Sarjo orang yang kemudian merintis kembali berjalannya kesenian ini. Para anggota kelompok ini pun dikumpulkan dan kemudian mereka memproklamasikan berdirinya Taruna Budaya. Berbagai perlengkapan yang dibutuhkan dalam kesenian ini pun kemudian mulai dibeli, sedangkan perlengkapan yang lama tetap dibiarkan di rumah pemilik lamkanya di wilayah Malasan,Trenggalek.
              Dan seolah kembali menemukan masa-masa kejayaannya bersama Taruna Budaya, undangan untuk tampil datang silih berganti ke alamat Taruna Budaya. Sampai-sampai para anggotanya merasa kewalahan untuk mengatur jadwal tampil. “Taruna Budaya ini berbeda dengan kelompok yang lain. Atraksi yang ditampilkan terus, terang saja lebih menarik. Terutama pada saat ndadi (kesurupan/trance). Pada saat itu anak-anak akan melakukan berbagai atraksi yang membuat jantung berdebar-debar,” ungkap Mbah Khalil.
             Atraksi dalam kondisi trance memang menjadi atraksi unggulan dari kesenian jaranan. Karena dalam atraksi ini para anggota kelompok kesenian tersebut akan bisa melakukan berbagai hal yang berada di luar nalar. Kita akan bisa melihat bagaimana para anggota kelompok ini bisa mengunyah pecahan kaca seperti mengunyah kerupuk. Atau bahkan ada pula yang terkadang mampu memanjat pohon dengan mudah seperti seekor monyet dan kemudian melompat ke bawah tanpa mengalami cedera sedikit pun.
             Dan menurut Mbah Khalili, atraksi-atraksi seperti inilah yang menjadi andalan kelompok kesenian yang dipimpinnya. Karena itulah dia mengatakan bahwa tiap kali Taruna Budaya tampil, para penonton akan berjubel memenuhi lapangan untuk menyaksikan dari awal sampai akhir.
Hal ini pula yang menyebabkan Sakur, almarhum suaminya bersedia untuk meneruskan tongkat kepemimpinan kelompok ini saat Sarjo melepaskannya pada tahun 2016 yang lalu. Kastur sendiri sebenarnya bukanlah bagian dari anggota kelompok kesenian ini. Namun dia telah terlanjur jatuh cinta dengan penampilan kelompok ini. Sehingga hampir kemanapun Sanjoyo Putro tampil, dirinya pasti akan hadir untuk menyaksikan.
              Namun sayangnya takdir berkehendak lain. Setelah dua tahun dia memimpin kelompok ini, Tuhan keburu memanggilnya. Dia meninggal saat dalam perjalanan menuju ke lokasi dimana Taruna Budaya akan tampil. Jalanan yang rusak membuat sepeda motor yang ditumpanginya bersama salah satu anak buahnya berjalan tanpa kendali hingga membuatnya terpental jatuh dan akhirnya tewas.
Kontan saja kabar kematian sang pemimpin ini membuat Mbah Khalil  dan anak buahnya yang sudah berada di lokasi tanggapan terkejut bagai disambar petir. Sehingga tanggapan yang sedianya diadakan untuk ritual bersih desa tersebut dibatalkan. Dan untunglah warga desa yang memiliki hajat dan mengundangnya mau mengerti. Kepergian Kastur nyaris membuat para anggota Taruna Budaya kehilangan kendali. Mereka hampir mirip anak ayam yang kehilangan induknya. Bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Hal ini karena bagaimanapun, selain untuk melestarikan tradisi, bermain jaranan merupakan salah satu mata pencaharian sampingan bagi para anggota yang umumnya bekerja sebagai buruh tani ini. Karenanya mereka khawatir kalau-kalau kelompok ini nantinya akan mati seiring dengan meninggalnya sang pemimpin. Yang berarti bahwa mereka juga akan kehilangan tambahan penghasilan.
               Tapi untunglah Mbah Khalil terbilang sosok yang teguh memegang sumpah dan janji. Meski sebelumnya dia merasa agak ragu dengan kemampuannya dalam memimpin kelompok ini, namun akhirnya dia bertekad bahwa dia memang harus menjalankan amanah sang suami untuk terus mempertahankan kelompok ini sampai akhir hayatnya. Berbagai tempat pun ia datangi untuk sekedar menawarkan jasa hiburan kesenian kelompok ini. Hasilnya pun cukup menggembirakan, hampir tiap bulan tanggapan datang ke kelompoknya.
“Jauh dekat gak masalah yang penting kelompok ini tetap bisa hidup. Karena kalau tidak, bukan tidak mungkin anak buah kami tidak bisa makan. Sebab kelompok ini bisa dikatakan salah satu sumber penghasilan mereka, selain bekerja di sawah,” tuturnya.
                Namun demikian, kisah kepergian sang suami menghadap Sang Pencipta cukup memberikan pelajaran berharga baginya untuk tidak sembarangan dalam menerima order tanggapan. Dalam kelompok jaranan seperti Taruna Budaya  memang seringkali ada satu hari yang dianggap keramat dan pada saat itu dia tidak diperbolehkan untuk tampil. Dan di kelompok Taruna Budaya hari itu adalah hari Jumat Legi.
“Jumat Legi adalah hari di mana kita waktunya memberi makan dan yang yang menunggui perlengkapan. Biasanya pada saat itu, selain dimandikan dengan air kembang, di dalam kamar penyimpanan akan disediakan kembang serta kemenyan,” terang Mbah Khalili sambil menunjukkan tempat pembakaran yang terletak tepat di bawah gamelan yang berada di salah satu kamar di rumahnya.
                   Dan pelanggaran terhadap pantangan ini berarti malapetaka. Hal inilah yang kemungkinan terjadi pada almarhum suaminya. Karena saat itu memang bertepatan dengan hari Jumat Legi, yang berarti harusnya kelompok ini tidak boleh tampil. Dan bila dipaksakan untuk tampil, maka bukan tidak mungkin para danyang itu akan memangsa sendiri para an­gota kelompok itu. Hal ini pula yang konon terjadi pada beberapa pemimpin kelompok ini sebelumnya, hingga akhirnya kelompok ini terus berganti pemimpin. Hanya saja peristiwa yang dialami berbeda-beda dan tidak semuanya meninggal karena kecelakaan.
                 Keberadaan danyang penunggu perlengkapan jaranan memang bukan hal yang aneh bagi komunitas pemain jaranan. Sebab keberadaan mereka memang tidak bisa lepas dari peran para mahluk penunggu ini. Dalam kondisi tertentu seperti saat ndadi (trance), jelas kehadiran makhluk itu sangat diharapkan untuk memberikan kekuatan lebih pada para pemain. Sehingga mereka bisa melakukan berbagai atraksi yang luar biasa dan terkadang tidak masuk akal.
Karena itulah sebuah jamuan istimewa harus senantiasa diberikan menjelang mereka tampil, serta pada saat-saat tertentu, seperti pada malam Jumat Legi di kelompok Taruna Budaya. Hal ini perlu dilakukan agar bisa terjadi kerja sama yang saling menguntungkan di antara para anggota kelompok dengan para makhluk penunggu tersebut. Dan sesaji itu adalah bagian dari lobi untuk mendapatkan dukungan dalam kerja sama itu.
               Maka dari itulah, para anggota kelompok ini tidak boleh memberikan sesaji yang asal-asalan kepada para makhluk penunggu itu. Sebab saat si makhluk itu tidak suka, bukan tidak mungkin justru malapetaka yang akan dihadapi. Hal ini seperti yang diceritakan Mbah Khalil yang mengatakan bahwa rumahnya nyaris habis terbakar hanya karena salah memilih kemenyan untuk sesaji. “Awalnya guling anak saya yang terbakar lalu coba dibawa ke dapur untuk dimatikan. Tapi anehnya bukannya mati tapi apinya justru semakin besar dan membakar sebagian dapur saya. Untunglah apinya kemudian bisa dipadamkan. Semula saya tidak menyangka kalau semua ini ada kaitannya dengan sesaji yang saya berikan. Saya menganggapnya sebagai kecelakaan saja. Saya baru sadar setelah kemudian tertidur dan bermimpi didatangi barong yang terbang berkeliling di atas kepala saya sambil bersiap untuk memangsa saya. Barulah saat itu saya sadar kalau memang menyan yang saya berikan saya ganti. Sejak dulu sesajinya selalu pakai menyan madu, tapi karena saat itu sedang tidak ada, akhirnya saya belikan menyan Arab yang harganya memang lebih murah,” kenang Mbah Khalil.
              Sejak saat itu Mbah Khalil tidak lagi berani bermain-main dengan sang penunggu itu. Dirinya semakin menyadari pentingnya arti kerja sama dengan sang danyang. Sebab bagaimanapun selama ini dirinya telah diuntungkan secara ekonomi oleh keberadaan makhluk-makhluk itu, melalui banyaknya undangan tanggapan yang mampir ke kelompoknya. Dan balas budi berupa sesaji yang terbaik memang layak diberikan, agar kerja sama itu bisa selalu langgeng, yang berarti nama besar Taruna Budaya juga pasti akan tetap berkibar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar