Rabu, 25 September 2019

              "How to Prepare My Examination"
       
 National exam which commonly abbreviated as UN is a standard evaluation system of primary and secondary education in Indonesia and the equation of quality of education levels among the areas that are conducted by the Center for Educational Assessment, The Department of Education. Although this exam is only held at the end of the education level, it still makes students depressed. They assume that this exam is the most frightening specter.
But for me, the moments leading up to the National Examination were a pleasant time.
When starting in January, we are bombarded with a Tryout to prepare ourselves for the National Examination. For me Tryout like this is very fun. Not because of the results that I can satisfy, but precisely because of the bad I can realize my ability in the face of the National Examination.
And the teachers are increasingly active in teaching because they are afraid that there will be students who do not pass the National Examination later.
For me, regardless of the results of the Exam, it will be a reward for my efforts to prepare myself for the National Examination. And I will not leave God just because the fearsome shadow of the UN.
Indeed, facing this national exam must need mentality and energy. Usually every time we carry out a national exam there is fear and anxiety. So we who want to carry out the national exam hope to be prepared as well as possible, starting from earnest learning, asking for prayers for parents to be given convenience in facing the national exam.
Usually in my personal experience, facing a national exam is essentially a lot of worship and frequent evening prayers, such as tahajud, qiyamul lail etc.
And this is what we need to pay attention to in learning to face the national exam. In order to learn frequently to ask our teachers such as math, science, English, and Indonesian.
If you rarely ask the teachers, you will have difficulty in answering the questions you face. Actually, if we can answer with the questions listed in the national exam questions, the key is that you often have to ask the teacher the learning material of each.
I first faced the test try out 1 to try out 2 rather confused how to answer it. This is also my own fault, first I was lazy as well. After the test, I answered the questions with my own ability.
Whether it's true or false, for example, if my answer is correct, maybe it's my istiqomah result in worship, and if for example this answer is wrong, I really really don't study.
After one week's time I will check the results of my own try out value and what will it look like? It turned out that the results of the try out 1 to try out 2 of my grades were not satisfactory, this was also my personal mistake, used to be why I didn't study really.
Now this is an ordeal for myself, this feels like getting unsatisfactory grades, ashamed of my siblings, neighbors, and most especially our own parents.
I also remember the message that was conveyed to my teacher, and my parents.
He said like this, if you do the exam questions start with prayer as much as possible, because prayer is the weapon of our lives in the world.
I say this word deeply in my heart. This is also for motivation for my friends who are facing exams try out. Since I have finished working on the try out exam questions, my friends and I agreed to continue to study seriously.
Starting from here I will change as much as possible, and continue to study with friends and teachers, sometimes at that time when I want to focus on learning the night only in the room no one accompanied me in learning sometimes our brain feels very saturated and hard to observe.
I hopefully the 2019 UNBK will be held starting Monday on April 1 - Monday the 8th 2019 runs smoothly and the results are satisfactory. Aamiiin
                                                 SEJARAH JARANAN TARUNA BUDAYA

      

           Jaranan di daerah Trenggalek ternyata tak hanya sebatas sebagai seni pertunjukan. Lebih dari itu, masyarakat di sana banyak yang percaya jika nadzar nanggap jaranan akan membuat usaha menjadi lancar dan meraih kesuksesan.
           Suatu saat, seorang warga yang tinggal di Boyolangu, Tulungagung mengaku heran dengan temannya yang asal Trenggalek. Teman itu mengajaknya mendatangi rumah seorang pawang jaranan yang ada di Dess Malasan,Trenggalek. Tujuannya bukan untuk order nanggap jaranan, melainkan berkeluh kesah soal permasalahan usaha toko berasnya yang mengalami sepi pembeli. Di akhir obrolan, pawang jaranan yang dianggap memiliki kelebihan supranatural itu menyanggupinya untuk membantu dengan caranya. Tapi, syaratnya nanti jika usahanya itu telah sukses, sang teman harus nanggap jaranan yang di bawah kepemimpinannya.
         Selang sekitar sebulan setelah peristiwa kedatangannya pada pawang jaranan itu, usaha sang teman kembali bergairah. Toko berasnya ramai pembeli dan pesanannya cukup banyak dengan pengambilan dalam jumlah besar. Dan, setelah dirasa uangnya sudah mencukupi, ia pun mendatangkan seni jaranan atau kuda lumping yang asal Desa Malasan,Trenggalek untuk pentas di rumahnya.
       Acara pentas jaranan berlangsung meriah. Banyak penduduk yang ikut menyaksikan kesenian yang termarjinalkan ini. Dan, teman yang punya hajat itu tersenyum penuh kegembiraan sebab telah memenuhi janji nadzarnya. “Fenomena itu banyak sekali terjadi di Trenggalek. Bahkan, sekarang orang-orang di daerah Ponorogo yang wilayahnya berdekatan dengan Trenggalek, banyak yang ikut-ikutan melakukannya,” ucap orang itu.
        Arief Syaifuddin Huda, pemerhati budaya, yang tinggal di Trenggalek mengatakan bahwa tidak aneh jika seseorang mendatangi pawang jaranan untuk meminta bantuan atau sekedar konsultasi mengenai permasalahannya sebab seorang pawang jaranan biasanya memang mempunyai kelebihan khusus dalam hal supranatural. Bahkan, tidak sedikit dari para pawang jaranan ini, yang pekerjaan sampingannya adalah sebagai dukun atau orang pintar yang sering didatangi orang untuk berbagai tujuan.
         Sedang nanggap jaranan, menurut Arief Syaifuddin Huda, bisa pula memiliki dua makna, yakni sebagai ajang promosi yang dilakukan sang pawang jaranan agar kesenian yang dipimpinnya lebih dikenal orang. Namun, bagi sebagian orang ada juga yang beranggapan bahwa jaranan adalah seni yang sakral, yang memang sering dijadikan media untuk bernadzar agar segala keinginan mudah terkabulkan.
        Seperti diketahui banyak orang, jaranan merupakan salah satu tarian tradisional khas Trenggalek. Selain sebagai hiburan, seni jaranan juga dikenal sebagai alat pemersatu masyarakat di Kediri. Meski berupa tarian, jaranan memiliki ciri tersendiri, baik dari tarian, pakaian yang dikenakan, serta irama yang mengiringinya. Kesenian jaranan asli Trenggalek, biasa diiringi dengan berbagai alat musik, seperti gamelan, gong, kendang, kenong. Sedangkan, dilihat dari tariannya, ada 2 macam tarian yang digunakan, yaitu tarian pegon atau jawa, dan tarian senterewe yakni gabungan antara tarian jawa dengan tarian kreasi baru.
         Jaranan, sebenarnya menggambarkan cerita masa lalu, ketika Raja Bantar Angin, seorang raja dari Ponorogo bermaksud melamar Dewi Songgolangit, putri cantik dari kerajaan Kediri, atau yang biasa disebut juga dengan Dewi Sekartaji atau Galuh Candra Kirana. Konon, karena wajahnya jelek, Raja Bantar Angin akhirnya menyuruh Patihnya, yang bernama Pujangga Anom, seorang patih yang dikenal sangat tampan. Agar Dewi Sekartaji tidak tertarik dengan Patih Pujangga Anom, Raja Bantar Angin memintanya memakai sebuah topeng buruk rupa. Lalu Patih Pujangga Anom, datang ke Kerajaan Kediri, menyampaikan maksud rajanya. Putri Sekartaji, yang mengetahui Patih Pujangga Anom mengenakan topeng, merasa tersinggung, lalu menyumpahi agar topeng tersebut, tidak bisa dilepas seumur hidup.
            Raja Bantarangin, akhirnya datang sendiri ke Kerajaan Kediri. Sebagai gantinya, Dewi Songgolangit meminta 3 persyaratan. Jika Raja Bantarangin bisa memenuhi, dirinya bersedia diperistri. Tiga syarat tersebut, binatang berkepala dua, 100 pasukan berkuda warna putih, dan alat musik yang bisa berbunyi jika dipukul bersamaan. Sayangnya, Raja Bantarangin, hanya bisa memenuhi 2 dari 3 persyaratan tersebut, 100 kuda warna putih yang digambarkan de­ngan kuda lumping, alat mu­sik yang bisa dipukul bersamaan yakni gamelan. Sehingga, terjadi pertempuran diantara keduanya. Kerajaan Kediri, datang dengan membawa pasukan berkuda, yang kini digambarkan sebagai jaranan, sementara Kerajaan Ponorogo membawa pasukan, yang kini digambarkan sebagai Reog Ponorogo.
             Di perjalanan, terjadi pertempuran. Raja Ponorogo yang marah, membabat macan putih yang ditunggangi patih Kerajaan Kediri, dengan cambuk samandiman, hingga akhirnya melayang ke kepala salah satu kesatria dari Ponorogo. Bersamaan dengan kejadian tersebut, seekor burung merak, kemudian juga menempel dikepala kesatria tersebut, sehingga ada kepala manusia yang ditempeli kepala macan putih dan merak, ini yang sekarang disimbolkan Reog Ponorogo. Bahkan, dalam tarian reog, semua penari juga membawa cambuk. Sementara dalam kesenian jaranan, menggam­barkan pasukan berkuda Dewi Sekartaji yang hendak melawan Raja Ponorogo. Barongan, Celeng dan atribut di dalamnya, sebagai simbol, selama dalam perjalanan menuju Ponorogo yang melewati hutan belantara, pasukan juga dihadang berbagai hal, seperti naga, dan hewan liar lainnya. 
             Taruna Budaya, demikian nama kelompok kesenian yang saat ini dipimpin Mbah Khalil. Kelompok ini sendiri berdiri sejak 2016. Sebelumnya kelompok Taruna Budaya  adalah kelompok kesenian jaranan yang paling terkenal di wilayah Trenggalek. Namun karena sang pendiri yang juga sekaligus pemimpin kelompok ini meninggal, akhirnya kelompok ini mulai vakum. Adalah Sarjo orang yang kemudian merintis kembali berjalannya kesenian ini. Para anggota kelompok ini pun dikumpulkan dan kemudian mereka memproklamasikan berdirinya Taruna Budaya. Berbagai perlengkapan yang dibutuhkan dalam kesenian ini pun kemudian mulai dibeli, sedangkan perlengkapan yang lama tetap dibiarkan di rumah pemilik lamkanya di wilayah Malasan,Trenggalek.
              Dan seolah kembali menemukan masa-masa kejayaannya bersama Taruna Budaya, undangan untuk tampil datang silih berganti ke alamat Taruna Budaya. Sampai-sampai para anggotanya merasa kewalahan untuk mengatur jadwal tampil. “Taruna Budaya ini berbeda dengan kelompok yang lain. Atraksi yang ditampilkan terus, terang saja lebih menarik. Terutama pada saat ndadi (kesurupan/trance). Pada saat itu anak-anak akan melakukan berbagai atraksi yang membuat jantung berdebar-debar,” ungkap Mbah Khalil.
             Atraksi dalam kondisi trance memang menjadi atraksi unggulan dari kesenian jaranan. Karena dalam atraksi ini para anggota kelompok kesenian tersebut akan bisa melakukan berbagai hal yang berada di luar nalar. Kita akan bisa melihat bagaimana para anggota kelompok ini bisa mengunyah pecahan kaca seperti mengunyah kerupuk. Atau bahkan ada pula yang terkadang mampu memanjat pohon dengan mudah seperti seekor monyet dan kemudian melompat ke bawah tanpa mengalami cedera sedikit pun.
             Dan menurut Mbah Khalili, atraksi-atraksi seperti inilah yang menjadi andalan kelompok kesenian yang dipimpinnya. Karena itulah dia mengatakan bahwa tiap kali Taruna Budaya tampil, para penonton akan berjubel memenuhi lapangan untuk menyaksikan dari awal sampai akhir.
Hal ini pula yang menyebabkan Sakur, almarhum suaminya bersedia untuk meneruskan tongkat kepemimpinan kelompok ini saat Sarjo melepaskannya pada tahun 2016 yang lalu. Kastur sendiri sebenarnya bukanlah bagian dari anggota kelompok kesenian ini. Namun dia telah terlanjur jatuh cinta dengan penampilan kelompok ini. Sehingga hampir kemanapun Sanjoyo Putro tampil, dirinya pasti akan hadir untuk menyaksikan.
              Namun sayangnya takdir berkehendak lain. Setelah dua tahun dia memimpin kelompok ini, Tuhan keburu memanggilnya. Dia meninggal saat dalam perjalanan menuju ke lokasi dimana Taruna Budaya akan tampil. Jalanan yang rusak membuat sepeda motor yang ditumpanginya bersama salah satu anak buahnya berjalan tanpa kendali hingga membuatnya terpental jatuh dan akhirnya tewas.
Kontan saja kabar kematian sang pemimpin ini membuat Mbah Khalil  dan anak buahnya yang sudah berada di lokasi tanggapan terkejut bagai disambar petir. Sehingga tanggapan yang sedianya diadakan untuk ritual bersih desa tersebut dibatalkan. Dan untunglah warga desa yang memiliki hajat dan mengundangnya mau mengerti. Kepergian Kastur nyaris membuat para anggota Taruna Budaya kehilangan kendali. Mereka hampir mirip anak ayam yang kehilangan induknya. Bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Hal ini karena bagaimanapun, selain untuk melestarikan tradisi, bermain jaranan merupakan salah satu mata pencaharian sampingan bagi para anggota yang umumnya bekerja sebagai buruh tani ini. Karenanya mereka khawatir kalau-kalau kelompok ini nantinya akan mati seiring dengan meninggalnya sang pemimpin. Yang berarti bahwa mereka juga akan kehilangan tambahan penghasilan.
               Tapi untunglah Mbah Khalil terbilang sosok yang teguh memegang sumpah dan janji. Meski sebelumnya dia merasa agak ragu dengan kemampuannya dalam memimpin kelompok ini, namun akhirnya dia bertekad bahwa dia memang harus menjalankan amanah sang suami untuk terus mempertahankan kelompok ini sampai akhir hayatnya. Berbagai tempat pun ia datangi untuk sekedar menawarkan jasa hiburan kesenian kelompok ini. Hasilnya pun cukup menggembirakan, hampir tiap bulan tanggapan datang ke kelompoknya.
“Jauh dekat gak masalah yang penting kelompok ini tetap bisa hidup. Karena kalau tidak, bukan tidak mungkin anak buah kami tidak bisa makan. Sebab kelompok ini bisa dikatakan salah satu sumber penghasilan mereka, selain bekerja di sawah,” tuturnya.
                Namun demikian, kisah kepergian sang suami menghadap Sang Pencipta cukup memberikan pelajaran berharga baginya untuk tidak sembarangan dalam menerima order tanggapan. Dalam kelompok jaranan seperti Taruna Budaya  memang seringkali ada satu hari yang dianggap keramat dan pada saat itu dia tidak diperbolehkan untuk tampil. Dan di kelompok Taruna Budaya hari itu adalah hari Jumat Legi.
“Jumat Legi adalah hari di mana kita waktunya memberi makan dan yang yang menunggui perlengkapan. Biasanya pada saat itu, selain dimandikan dengan air kembang, di dalam kamar penyimpanan akan disediakan kembang serta kemenyan,” terang Mbah Khalili sambil menunjukkan tempat pembakaran yang terletak tepat di bawah gamelan yang berada di salah satu kamar di rumahnya.
                   Dan pelanggaran terhadap pantangan ini berarti malapetaka. Hal inilah yang kemungkinan terjadi pada almarhum suaminya. Karena saat itu memang bertepatan dengan hari Jumat Legi, yang berarti harusnya kelompok ini tidak boleh tampil. Dan bila dipaksakan untuk tampil, maka bukan tidak mungkin para danyang itu akan memangsa sendiri para an­gota kelompok itu. Hal ini pula yang konon terjadi pada beberapa pemimpin kelompok ini sebelumnya, hingga akhirnya kelompok ini terus berganti pemimpin. Hanya saja peristiwa yang dialami berbeda-beda dan tidak semuanya meninggal karena kecelakaan.
                 Keberadaan danyang penunggu perlengkapan jaranan memang bukan hal yang aneh bagi komunitas pemain jaranan. Sebab keberadaan mereka memang tidak bisa lepas dari peran para mahluk penunggu ini. Dalam kondisi tertentu seperti saat ndadi (trance), jelas kehadiran makhluk itu sangat diharapkan untuk memberikan kekuatan lebih pada para pemain. Sehingga mereka bisa melakukan berbagai atraksi yang luar biasa dan terkadang tidak masuk akal.
Karena itulah sebuah jamuan istimewa harus senantiasa diberikan menjelang mereka tampil, serta pada saat-saat tertentu, seperti pada malam Jumat Legi di kelompok Taruna Budaya. Hal ini perlu dilakukan agar bisa terjadi kerja sama yang saling menguntungkan di antara para anggota kelompok dengan para makhluk penunggu tersebut. Dan sesaji itu adalah bagian dari lobi untuk mendapatkan dukungan dalam kerja sama itu.
               Maka dari itulah, para anggota kelompok ini tidak boleh memberikan sesaji yang asal-asalan kepada para makhluk penunggu itu. Sebab saat si makhluk itu tidak suka, bukan tidak mungkin justru malapetaka yang akan dihadapi. Hal ini seperti yang diceritakan Mbah Khalil yang mengatakan bahwa rumahnya nyaris habis terbakar hanya karena salah memilih kemenyan untuk sesaji. “Awalnya guling anak saya yang terbakar lalu coba dibawa ke dapur untuk dimatikan. Tapi anehnya bukannya mati tapi apinya justru semakin besar dan membakar sebagian dapur saya. Untunglah apinya kemudian bisa dipadamkan. Semula saya tidak menyangka kalau semua ini ada kaitannya dengan sesaji yang saya berikan. Saya menganggapnya sebagai kecelakaan saja. Saya baru sadar setelah kemudian tertidur dan bermimpi didatangi barong yang terbang berkeliling di atas kepala saya sambil bersiap untuk memangsa saya. Barulah saat itu saya sadar kalau memang menyan yang saya berikan saya ganti. Sejak dulu sesajinya selalu pakai menyan madu, tapi karena saat itu sedang tidak ada, akhirnya saya belikan menyan Arab yang harganya memang lebih murah,” kenang Mbah Khalil.
              Sejak saat itu Mbah Khalil tidak lagi berani bermain-main dengan sang penunggu itu. Dirinya semakin menyadari pentingnya arti kerja sama dengan sang danyang. Sebab bagaimanapun selama ini dirinya telah diuntungkan secara ekonomi oleh keberadaan makhluk-makhluk itu, melalui banyaknya undangan tanggapan yang mampir ke kelompoknya. Dan balas budi berupa sesaji yang terbaik memang layak diberikan, agar kerja sama itu bisa selalu langgeng, yang berarti nama besar Taruna Budaya juga pasti akan tetap berkibar.

Tutorisl beserta budget membuat tacos beef


     Assalamu'alaikum temen - temen, kali ini aku akan berbagi resep cara membuat tacos beef. Sebelumnya ada yang pernah tau apa itu tacos beef ? Kalau ada yang belum tau ini aku jelasin yaa. Tacos beef merupakan hidangan meksiko tradisional yang terdiri dari tortilla jagung atau gandum yang dilipat atau digulung disekitar tempat pengisian. Taco bisa dibuat dengan berbagai tambahan, termasuk daging sapi, babi, ayam, makanan laut, sayuran, dan keju, yang memungkinkan fleksibilitas dan variasi yang hebat. Taco umumnya dimakan tanpa peralatan dan sering disertai dengan hiasan seperti salsa cabai, alpukat, guacamole, ketumbar, tomat, bawang Bombay, dan selada. Hmmm kelihatannya mudah ya bahan - bahannya cocok juga jadi makanan buat anak kost, kan mudah buatnya so bahannya muda di dapat. Wkwk
    Oke langsung aja lihat alat, bahan, tutorial sama budgetnya di bawah yaa. Jangan lupa dibacaa yaaa. 



Bahan :



Nama Bahan
Jumlah

Kulit tortilla
2 lembar

Daging sapi
¼ kg

Bawang Bombay
1 buah

Bawang putih
3 siung

Lada
1 sdt

Pala
½ sdt

Tomat
2 buah

Mentimun
2 buah
Selada
2 ikat
Garam
Secukupnya
Gula pasir
Secukupnya
Saos sambal
3 sachet
Keju
1 kotak kecil
Mayonais 
1 sachet


Alat :
Nama alat
Jumlah
Pisau
2 buah
Teflon
1 buah
Blender
1 buah
Piring
2 buah
Sendok
2 buah
Talenan
1 buah
Tusuk gigi
Secukupnya

Cara pembuatan :
1.     Menghaluskan daging dengan cara diblender.
2. Menumis separuh bawang Bombay dan bawang putih hingga layu, kemudian menambahkan lada,garam,gula,pala dan daging giling, lalu diaduk hingga rata dan diberi air sedikit, tumis hingga daging matang dan mencicipi rasanya kemudian diangkat dan ditiriskan
3.     Menyiapkan Teflon, kemudian kulit tortilla dipanaskan hingga permukaannya menjadi kecoklatan
4.     Setelah itu letakkan dipiring, beri mayonais, saos, dan selada + sayuran lain + keju dan daging beri mayonais dan saos lalu lipat
5.     Lalu memanaskan Teflon dengan api sedang lalu panggang hingga matang
6.     Setelah matang, lalu disajikan dan beri sedikit toping pada tempat saji

Budget

Bahan
Jumlah
Harga
Kulit Tortilla
3 lembar
Rp 3000,-
Daging sapi
¼ kg
Rp 30000,-
Bawang bombai
1 buah
Rp 3000,-
Bawang putih
3 siung
Rp 800,-
Lada hitam
1 sachet
Rp 1000,-
Gula Pasir
¼  kg
Rp 3000,-
Garam
1 bungkus kecil
Rp 1000,-
Mayonais  
1 bungkus
Rp 2000,-
Selada
6 lembar
Rp 1250,-
Pala
½ sendok the
Rp 700,-
Saos sambal
Secukupnya
Rp 2000,-
Tomat
2 buah
Rp 1000,-
Keju
1 bungkus kecil
Rp 5000,-
Mentimunn
1 buah
Rp 1000,-
 Total
Rp 54.750,-


Sabtu, 14 September 2019

Kisahku sebagai maba planologi


Halo Selamat Malam gaess!!
Ini blog keduaku loh yaaa. Aku mau cerita tentang kisahku masuk duniaa prodi Planologi Fakultas Teknik Unej.



Alhamdulillah sekarang saya sudah jadi MABA nih. Mahasiswa Baru.
Baru mahasiswa.
Baru masuk universitas.
Baru merasakan kuliah.
Baru kenal dosen.
Baru kenal banyak teman dari berbagaii daerah.
Pokoknya serba baru deh.


Saya mau cerita sedikit nih, kenapa bisa ada di Planologi Unej.
Jadi, selain disarankan sama Ayah, saya juga cari-cari tentang Teknik PWK atau Planologi di google.
Planologi?
Perencanaan wilayah dan kota?
tapi teknik?
Awalnya saya sempat ragu buat daftar Plano. Karena ketidaktahuan saya, saya pikir semua teknik akan seperti sipil, elektro, mesin dan sebangsanya. Penuh hitungan dan fisika.
Padahal, jujur saja saya nggak tertarik sama matematika dan nggak terlalu jago IPA.
Tapi waktu SMA juga IPA sih... tapi ya sudahlah.

Kemudian saya makin hari makin mantap mendaftar di Planologi.
Karena, menurut saya, Planologi adalah cabang ilmu yang lingkupnya luas. Walaupun teknik, tapi juga ada unsur-unsur sosial di dalamnya.
Banyak perpaduan antara geografi dan IT. Wah, itu minat saya banget.
Akhirnya saya mencari-cari info tentang Planologi sebelum pengumuman PTN keluar.
Ya, saya jadi semakin tertarik dan tertantang di jurusan ini.
Semoga semangat saya nggak hanya di awal tapi, sampai akhir nanti bisa menjadi berguna bagi masyarakat dengan ilmu yang saya dapatkan. Aamiin...





Oh ya satu lagi, tujuan utama membuat blog ini sebenarnya adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Teknologi Informasi :)
Tapi harapan saya, karena sudah jadi mahasiswa, semoga blog ini bisa terus dikembangkan dan memberikan manfaat bagi para pembacanya.
Sebelum saya menutup, saya ingin menyampaikan beberapa opini tentang tata ruang.
Karena masih maba dan memang belum banyak diajarkan, mungkin opini ini hanya dari perspektif masyarakat umum saja :)

Tata ruang. Setahu saya, tata ruang adalah bagaimana kita menyusun dan menata, membuat sebuah pola di ruang yang ada. Ruang-ruang tersebut dapat berupa daratan, air, maupun udara. Lingkup ruang pun mulai dari pedesaan, kota, regional dan nasional.
Kalau menurut saya, jujur saja Indonesia belum bisa menata ruang yang ada seperti negara-negara lain. Sebut saja negara tetangga terdekat kita, Malaysia.
Meski saya belum pernah kesana tapi, menurut cerita dari saudara, teman dan dosen, negaranya tertata dengan baik dan rapi. Tidak akan ada pemukiman kumuh di samping rel kereta api atau di bantaran sungai yang sampai kini masih ada di Indonesia. Banyak memang jika dibahas satu per satu mengenai tata ruang di Indonesia.

Harapan saya, setelah saya mulai belajar di Planologi, saya dapat berkontribusi secara nyata dan kontinyu dalam perbaikan tata ruang dan tata wilayah di Indonesia.


Sekian. Selamat membaca blog ini, semoga bermanfaat!